kepercayaan

KEPERCAYAAN

Kepercayaan adalah salah satu sifat manusiawi yang pastinya dimiliki semua orang, kepercayaan cenderung sebagai keyakinan dalam hati seseorang, dan mengharapkan kebenaran atas apa saja yang telah diyakini (dipercaya). Bila diibaratkan, kepercayaan itu bak mutiara, bila kita mampu menjaganya, maka kita akan dapatkan keindahan dari seberkas cahaya yang dipantulkan dari hati hati kita, tapi sebaliknya, bila kita biarkan mutiara itu bak batu yang tak berharga, maka yang kita dapatkan hanyalah sebongkah gumpalan keras dalam kehidupan kita, tanpa ada kepercayaan dari orang lain bagi kita.

Tidak semua orang yang belum mendapat kesempatan promosi keahlian itu tidak ahli, tetapi adakalanya orang belum percaya akan keahliannya. Bahkan ada kalimat yang pernah saya baca dari buku karya Helga Drummond berjudul: “Power: Creating It Using IT”, (Kogan Page: 1991) yang intinya ingin memahamkan kita bahwa untuk kepentingan power, maka yang terpenting bukan saja di bidang apa kita ahli, tetapi siapa saja yang mempercayai keahlian kita. Semua orang bisa ja ngucapin kata-kata manis yang kadang berbuah duri, tapi hanya sedikit dari mereka yang dapat membuahkan kebenaran sejati. Semua orang bisa ngomong politik ato ngomong tentang jeleknya pejabat, tetapi hanya orang tertentu saja yang sah untuk berbicara tentang hal ini. Semua orang di kantor bisa diajak melihat kekurangan organisasi, tetapi prakteknya hanya orang tertentu saja yang diberi hak untuk berpendapat tentang hal ini. Kira-kira begitulah contohnya.

Kasarnya, biarpun kita sudah ahli di bidang tertentu, entah itu dalam bisnis, atupun bercinta, tetapi kalau belum ada orang yang mempercayai keahlian kita, keahlian itu manfaatnya masih belum banyak buat kita. Mungkin atas dasar inilah George MacDonald pernah mengatakan: “Dipercaya itu nilainya lebih besar ketimbang dicintai.”

Jika dicek ulang apa saja yang menjadi pemicu munculnya problem dalam hubungan, saya yakin kepercayaan termasuk salah satu faktor yang terbesar. Jika kepercayaan itu ada dalam sebuah hubungan memang tidak berarti problem akan hilang, tetapi jika kepercayaan itu sudah hilang, dipastikan akan banyak muncul problem. Problem yang diakibatkan oleh hilangnya kepercayaan ini biasanya melahirkan ketidak-efektif-an ato ketidak-efisien-an. Bisa dikatakan, karena Kepercayaan adalah Asas Sebuah Hubungan Yang Efektif dan Efisien.

Kepercayaan akan mampu mengurangi sekian persen potensi problem dalam hubungan antarmanusia. Hubungan yang saya maksudkan di sini bisa hubungan apa saja, mungkin bisnis, mungkin profesi, rumah tangga, persahabatan cinta dan lain-lain. Seperti yang kita alami, hubungan kita dengan orang lain itu tak hanya menjadi sumber solusi. Terkadang juga menjadi sumber problem. Problem inipun ada yang berupa kesulitan, dilema, dan misteri. Pokoknya, warna-warni problem itu bisa dikatakan tak terhitung.

Kenapa setiap orang harus bisa percaya pada orang lain, ato sebaliknya, seseorang harus mampu membuktikan pada orang lain bahwa dirinya pantas dipercaya. Mungkin semua itu bisa jadi alasan kenapa kepercayaan itu sangatlah penting dalam hubungan sosialisasi antar 2 orang ato lebih. Jadi alasan kenapa tulisan ini dibuat, salah satunya karena saat ini terlalu banyak orang yang tidak mengerti apa itu “kepercayaan” sehingga banyak pula orang yang tidak bertanggung jawab pada suatu kepercayaan yang telah dibebankan pada dirinya.

Ya… mungkin Suasana dunia telah berubah, mungkin disebabkan karena semakin tua umur bumi, sehingga semakin tua pula jiwa-jiwa yang mampu memegang teguh tanggungjawab atas kepercayaan yang di bebankan pada dirinya (amanat) ato sudah matilah mereka?? dari sekilas survey yang terlihat akhir-akhir ini, dapat ditarik prosentase 70% bahwa manusia yang hidup di bumi sekarang ini tidak mampu menjaga dan melaksanakan amanat yang telah menjadi bebannya. Malah kebanyakan manusia lebih mementingkan dirinya dahulu, sebagai sifat egoisme yang tak terkendali yang pastinya dimiliki oleh manusia yang tidak bisa menghargai betapa pentingnya kepercayaan bagi kehidupannya.

Sudah bukan hal yang aneh lagi, bila terdengar di sudut telinga bahwa saat ini banyak orang yang merasa dirugikan oleh orang yang kurang bertanggung jawab pada suatu kepercayaan yang jadi beban hidupnya. Mungkinkah sudah tiada lagi orang yang benar-benar suci, yang mampu dipercaya??

Itulah sekilas gambaran bagaimana cara kerja kepercayaan dalam praktek hidup sehari-hari. Jika di atas ada pertanyaan mengapa kepercayaan itu perlu dibangun, maka jawabnya adalah: kepercayaan itu bukan pembawaan (traits) tetapi hasil dari pemberdayaan ato usaha (state), kepercayaan itu bukan pemberian tetapi balasan, kepercayaan itu bukan kumpulan pernyataan (talking only), tetapi kumpulan dari pembuktian (witness).

Setelah diketahui sedikit tentang kepercayaan, barulah terasa, betapa pentingnya suatu kepecayaan itu dijaga. maka disini saya mencoba menjelaskan sedikit pembagian dalam kata “kepercayaan”.
Kepercayaan dapat dibagi sesuai obyeknya, antara lain :
Kepercayaan adanya sang pencipta dan sesuatu yang kasat mata (gaib).
Kepercayaan pada diri sendiri.
Kepercayaan pada orang lain (sosialisasi).

Kalau bicara tentang kepercayaan pada Sang Pencipta & sesuatu yang kasat mata (gaib), pastilah sudah tidak asing ditelinga kita, karena penjelasannya sudah banyak pada pelajaran agama formal ato nonformal yang didapat mulai kita masih duduk dipangkuan ibunda, sekolah, kuliah mungkin sampai saat mata kita tidak lagi dapat terbuka. Sedangkan disini saya hanya membatasi pembahasan tentang kepercayaan antar manusia sebagai gambaran dari mahluk sosial yang mau tidak mau pastilah membutuhkan manusia lainnya.

Sebelum kita mempercayai orang lain, hendaknya kita dapat mempercayai diri sendiri terlebih dahulu, yang sering disebut PD (percaya diri). Kita haruslah bisa percaya pada diri kita sendiri untuk dapat melakukan apapun yang dibutuhkan, agar dapat menggapai semua yang diinginkan dengan hasil yang maksimal.

Caranya?? mudah, untuk memberi rasa percaya pada diri kita sendiri, kita cukup menyakini dalam hati bahwa kita bisa melakukan apa yang kita inginkan, keyakinan seperti ini biasa disebut dengan rasa optimisme. Seseorang tidaklah mungkin dapat menjalani hidup dengan sebuah keberhasilan yang sangat memuaskan tanpa adanya optimisme yang terkandung dalam jiwanya, karena apa? dijaman yang semakin kejam ini, hokum alam seakan berlaku lagi, yang menjadi raja, sedangkan yang lemah menjadi budaknya. Jadi sifat otimisme sangatlah dibutuhkan oleh setiap orang yang ingin hidup lebih baik.

Setelah kita mampu membangun optimisme dalam diri kita, Kita harus sadar bahwa kita hidup berdampingan dengan orang lain, entah itu keluarga, saudara, tetangga, teman, atopun kekasih juga bisa. Jadi mau tidak mau kita pastilah membutuhkan mereka, karena kita tercipta sebagai manusia yang mempunyai sifat sosialisme, sebagai interaksi kehidupan. maka saatnya kita belajar untuk percaya pada orang lain dan kita mampu membuat orang lain percaya pada kita.

Sebelum kita dapat mempercayai orang lain, kita harus bisa membuat orang lain percaya pada kita, mungkin hanya dengan kejujuran dan menjalan amanat, kita dapatkan kepercayaan dari orang lain. Setelah itu barulah kita dapat memberi kepercayaan pada orang lain. Agar kita tidak salah mempercayai orang, ada beberapa langkah yang harus dipahami dan diterapkan :
Kita haruslah tau, siapa dan bagaimana sifat orang tersebut, bisakah dipercaya.?
Jangan sampai kita gampang percaya pada orang yang belum begitu dikenal.
Ingat, belum tentu orang yang dekat itu, mampu bertanggung jawab untuk menjaga kepercayaan kita.
Jangan terlalu berharap orang akan selalu bisa dipercaya.

Nah, mungkin setelah kita mampu menerapkan langkah-langkah diatas, kita tidak akan memberi kepercayaan pada orang yang salah. Sebelum kita memberikan kepercayaan pada orang lain, kita haruslah tahu, cirri-ciri orang yang dapat dipercaya. Adapun ciri-ciri orang yang dapat dipercaya, sebagai berikut :
Bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan padanya.
Konsisten dengan apa yang dikatakan.
Tidak mudah gampang mengucap janji.

Sudah terlalu banyak orang yang hancur karena salah memberikan kepercayaan pada orang lain. Setelah kita merasa dirugikan, karena orang yang kita harapkan dapat dipercaya, ternyata begitu mudahnya melukan tanggung jawabnya dan membuang kepercayaan tersebut layaknya sampah. Semua orang pastinya sudah pernah merasa kecewa pada orang yang dipercayainya, sampai-sampai berfikir negative, seakan dunia dihuni kumpulan penghianat….. !! apalagi jika orang tersebut adalah belahan hati (kekasih gitu) pastilah rasanya kita kapok, memberikan kepercayaan hati pada lawan jenis kita. Ya…. itulah akibat yang harus dirasakan bila kita mau hidup di dunia yang dipenuhi dengan kefanaan ini, yang selalu berpasangan, ada tawa, ada pula tangisnya…!!

Untuk mengantisipasi agar kita tidak merasa dikecewakan oleh orang yang kita percaya, salah satunya adalah, jangan mudah memberi kepercayaan kepada siapapun sebelum kita benar-benar yakin orang tersebut mampu menjaga kepercayaan kita. Dengan begitu kita tidak akan salah memilih orang yang mampu menjaga kepercayaan kita dan kita tidak akan merasa dikecewakan orang lain.

Meskipun kita telah memberikan kepercayaan pada orang yang kita anggap mampu bertanggung jawab untuk menjaga kepercayaan kita, tapi tetap saja kita harus bisa membatasi kepercayaan tersebut, jangan sampai sampai kita memberikan kepercayaan 100% pada orang lain, itu terlalu sempurna bagi manusia yang tercipta dengan segala kekhilafan. Salah satu contohnya, bila seseorang yang lagi terpanah asmara, biasanya mereka terlalu berlebihan memberikan kepercayaan pada orang yang dicintai, kadang juga kepercayaan yang diberikan melampaui batas, melebihi kepercayaan pada dirinya sendiri, lalu apa yang didapat bila ternyata seseorang yang dicintai itu telah menghancurkan kepercayaannya, hanya 2 kata, yaitu “patah hati”. Siapa yang bertanggung jawab, tidak ada, karena itu bukan semata-mata kesalahan orang tersebut, kita juga bersalah karena terlalu berlebihan memberikan kepercayaan padanya, over dosis gitu. Perlu diingat, kepercayaan 100% itu hanya diperuntukan bagi Sang-Pencipta.

Cara seperti ini bermanfaat untuk mengurangi kekecewaan yang mungkin saja akan kita rasakan, bila ternyata akhirnya kepercayaan diselewengkan oleh orang lain. Sehingga kita tidak akan terus-terusan menyesali diri kita, karena telah memberi kepercayaan pada orang yang salah. Kemudian kita tidak akan merasa sepenuhnya dirugikan, karena sebelumnya kita sudah dapat membatasi kepercayaan kita.

Ketika berbicara kepercayaan, mungkin ada dua hal yang patut diingat.
1. Kepercayaan itu datangnya dari orang lain tetapi alasannya dari kita. Artinya, ada dua pihak yang terlibat di sini. Karena itu sangat mungkin terjadi kasus penyimpangan. Misalnya saja, kita mempercayai orang yang tidak / belum layak dipercaya. Ato juga, kita belum / tidak dipercaya orang lain padahal kita sudah menyiapkan alasan untuk dipercaya.

Meskipun teknisnya sangat mungkin muncul kasus seperti di atas, tetapi prinsipnya tidak berubah. Artinya, pada akhirnya orang akan tidak percaya sama kita kalau kita tidak memiliki alasan ato kualifikasi yang layak untuk dipercaya. Sebaliknya, kita akan tetap mendapatkan kepercayaan kalau ternyata kita memiliki bukti-bukti yang layak untuk dipercaya (meski awalnya tidak dipercaya). Prinsip ini tidak bisa berubah. Teknis sifatnya sementara tetapi prinsip bersifat abadi.

2. Kebanyakan orang sudah mengetahui apa saja yang perlu dilakukan untuk membangun kepercayaan dan mengetahui apa saja yang perlu dihindari karena akan merusak kepercayaan orang. Tetapi sayangnya hanya sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya. Padahal, pada akhirnya kepercayaan itu butuh pembuktian, bukan pernyataan.

3. Ada kata “kepercayaan”, pastilah ada kata “tanggung jawab” jadi intinya, hanya orang yang mempunyai tanggung jawab yang besar, yang mampu dipercaya. sebelum menilai orang lain, tanyalah pada diri sendiri, apakah kita sudah termasuk orang yang bertanggung jawab?? Nilailah diri kita terlebih dahulu.

Sebagai penegas ulang dari apa yang sudah kita tahu, di sini saya mencatat ada tiga hal yang kerap menjadi perusak kepercayaan.
a. Malas, setengah-setengah, ogah-ogahan (low commitment)
Biasanya, sebelum kita berani melanggar berbagai komitmen dengan orang lain, awalnya kita melakukan pelanggaran itu pada komitmen pribadi. Misalnya, kita punya rencana tetapi tidak kita jalankan. Kita punya target tetapi kita biarkan. Kita punya keinginan memperbaiki diri tetapi yang kita praktekkan malah merusak. Ini semua bukti adanya “gap between the world of word and the world of action” di dalam diri kita, yang merupakan buah dari komitmen yang rendah.

Menurut pengalaman Mahatma Gandhi, efek dari disiplin yang merupakan buah dari komitmen tinggi itu, tak hanya pada satu titik dalam kehidupan kita. Tetapi ia menyebar ke seluruh wilayah. Sebaliknya, efek dari ketidakdisiplinan juga menyebar ke seluruh wilayah, dari mulai hubungan kita ke dalam (intrapersonal) sampai ke hubungan kita ke luar (interpersonal).

b. Keahlian ato kapasitas yang tidak memadai
Banyak yang sepakat mengatakan, kejujuran merupakan pondasi kepercayaan. Ini pasti benar dan sama-sama sudah kita akui sebagai kebenaran. Cuma, ada satu hal yang sering kita lupakan bahwa yang membuat kita menjadi orang yang tidak jujur, bukan saja persoalan komitmen moral, tetapi juga keahlian ato kapasitas personal. Kalau Kamu hanya punya pendapatan tetap sebanyak dua juta tetapi Kamu harus menanggung kredit perbulan sebanyak lima juta, maka Kamu mendapatkan stimuli dan force yang cukup kuat untuk berbohong. Sebagian kita “terpaksa” berbohong bukan karena rusak imannya tetapi karena kapasitasnya belum sampai. Di sini yang diperlukan adalah kemampuan mengukur kadar diri (self-understanding), pengetahuan-diri (self knowledge) ato kemampuan membuat keputusan yang bagus (the right decision).

c. Kebiasaan Melanggar Kebenaran
Punya kebiasaan melanggar kebenaran yang disepakati agama-agama, norma-norma dan lain-lain serta punya kebiasaan mendewakan “kebenaran-sendiri” yang melawan kebenaran itu, juga bisa merusak kepercayaan. Dalam hal usaha ato kerja sering kita dapati ada orang lebih percaya sama orang lain ketimbang sama keturunannya sendiri karena pelanggaran yang dilakukan. Soal sayang, pasti orang lebih sayang sama keturunannya, tetapi soal percaya, lain lagi. Bahkan tak sedikit penjahat ato koruptor mencari orang lain yang bukan penjahat ato yang bukan koruptor ketika urusannya adalah soal kerja ato menjalankan usaha.

Bila kita sudah merasa mampu bertanggung jawab pada kepercayaan dari orang, haruslah kita konsisten untuk menjaganya. Sebenarnya cara menjaga kepercayaan sangatlah sederhana, kita cukup melaksanakan amanat (kepercayaan) yang sudah dibebankan pada kita, jangan sampai sesekali kita mencoba mengacuhkan kepercayaan orang lain, walaupun itu hanyalah hal yang sepele, karena sekali saja kita menyelewengkan kepercayaan orang lain, jangan pernah berharap kita bisa mendapakan kesempatan kedua untuk diberikan kepercayaan oleh orang tersebut ato orang lain.

Maaf ya…. Klo tulisan ini terlalu panjang, ato juga berbelit-belit, baca ja, so saran dan kritiknya saya harap… Moga manfaat….

by : h@zky.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: